Senin, 28 September 2026 | Pon
15 Rabiul Akhir 1448 H
Khutbah Jum'at : Kemarau di Bumi, Jangan Biarkan Jiwa Ikut Mengering
Ilmu Pengetahuan & Alam Semesta Pro

Khutbah Jum'at : Kemarau di Bumi, Jangan Biarkan Jiwa Ikut Mengering

Penulis: Albirru
Ahad, 27 September 2026
4 Dibaca

Khutbah 1

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِعَفْوِهِ تُغْفَرُ الذُّنُوْبُ وَالسَّيِّئَاتُ، وَبِكَرَمِهِ تُقْبَلُ الْعَطَايَا وَالْعِبَادَاتُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ، الْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ، الْمُرْسَلِ إِلَى كَآفَّةِ الْمَخْلُوْقِيْنَ، وَعَلَىٓ اٰلِهِ وَذُرِّيَتِهِ الْأَطْهَارِ، وَصَحَابَتِهِ الْأَخْيَارِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ  بِالْاِبْتِعَادِ  مِنَ الْأَشْرَارِ،  أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْنُ،  وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْنِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ،  قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى:  وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا،  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.

Ma’asyiral muslimin, hafizhakumullah,


Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Di antara bentuk untuk meningkatkan ketakwaan adalah membangun kesadaran atas ketidak berdayaan kita terhadap fenomena alam, sedangkan pada saat yang sama kita sangat membutuhkan salah satu komponen yang terkena dampaknya, yaitu air.


Fenomena alam yang dimaksud adalah musim kemarau yang kita hadapi saat ini. Beberapa waktu terakhir, kemarau panjang mulai dirasakan di berbagai daerah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pertengahan Oktober 2026 mencatat bahwa sekitar 81 persen Zona Musim di Indonesia masih memasuki musim kemarau.


Kemarau bukan hanya persoalan panasnya cuaca. Di baliknya ada persoalan yang jauh lebih mendasar, yaitu ketersediaan air sebagai hajat seluruh makhluk. Ketika sumber air mulai mengering, yang terdampak bukan hanya tanaman dan sawah, tetapi juga rumah tangga, peternakan, kesehatan, dan berbagai aktivitas masyarakat. Air adalah kebutuhan primer bagi manusia dan seluruh makhluk hidup.


Dalam keadaan seperti ini, Islam mengajarkan kepada kita dua hal yang harus berjalan bersama: muhasabah dan ikhtiar. Muhasabah membuat kita bertanya kepada diri sendiri, sedangkan ikhtiar mengharuskan kita bergerak mencari jalan keluar.


Ma’asyiral muslimin, hafizhakumullah,

Di dalam Al-Qur’an, Allah menceritakan kepada umat Nabi Hud, yaitu kaum ‘Ad, untuk bertauhid dan menyembah-Nya. Bahkan, secara khusus Nabi Hud diperintahkan untuk menyeru kaumnya sebagaimana firman Allah berikut:

 وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْآ  إِلَيْهِ  يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِيْنَ


Artinya: “Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang lebat kepadamu dan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu. Janganlah kamu berpaling menjadi orang-orang yang berdosa.” (QS Hud: 52)


Ma’asyiral muslimin, hafizhakumullah,


Hanya saja, ayat ini jangan sampai dipahami secara sederhana bahwa langit yang menahan airnya bukanlah semata-mata awan yang menghilang, melainkan dosa dan kelalaian yang mungkin menjadi penutup rahmat. Istighfar dan taubat bukan sekadar ucapan di bibir, melainkan tangisan penyesalan dari hati dan kesediaan nyata untuk memperbaiki diri.


Ma’asyiral muslimin, hafizhakumullah,


Karena itu, di dalam sejarah disebutkan bahwa ketika Umar bin Khattab batal memasuki wilayah yang sedang terkena wabah, ia kemudian ditanya, “Apakah Anda hendak lari dari takdir Allah?” Umar menjawab:

 نَعَمْ،  نَفِرُّ  مِنْ  قَدَرِ اللّٰهِ   إِلَى قَدَرِ اللّٰهِ

Artinya: “Iya, kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.”


Apa maknanya bagi kita hari ini? Berpindah dari "takdir kekeringan" menuju "takdir Allah yang lain" berarti kita harus bangkit bergerak. Mulailah dari rumah kita sendiri: hentikan pemborosan, perbaiki keran yang bocor, dan jangan buang-buang air meski kita merasa masih punya. Rawat kelestarian alam dan jangan cemari sungai.


Dan yang paling utama, basahi keringnya kemarau ini dengan kedermawanan. Jika ada tetangga kita yang kesulitan air, bantulah mereka. Jangan sekadar berucap, "Semoga dimudahkan," tapi wujudkan simpati itu lewat sedekah air dan gotong royong, karena itulah bentuk kepedulian yang paling dicintai Allah saat ini.


Jamaah yang dimuliakan Allah,


Jadikanlah kemarau ini sebagai ladang amal. Mari kita perbaiki hati dengan istighfar, dan perbaiki keadaan dengan ikhtiar. Jangan biarkan air mata penyesalan kita ikut mengering, agar Allah segera meneteskan rahmat-Nya dari langit. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita, mencukupi kebutuhan air umat manusia dan seluruh makhluk-Nya, serta segera menurunkan hujan yang membawa keberkahan, bukan kehancuran.


 بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ العَظِيْمَ  إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ



Khutbah 2

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ،  أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ  إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، وَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرٍ.

إِنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ قَوْلًا كَرِيْمًا: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالْإِيْمَانِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ،  مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ،  عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً،  يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ،  وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَآ اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.


Bagikan:

Tinggalkan Komentar

0 Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!