Minggu, 04 Oktober 2026
|
21 Rabiul Akhir 1448 H
| Wage
Fathul Qoribul Mujib | Bab Sholat Jum'at
Kitab Gratis

Fathul Qoribul Mujib | Bab Sholat Jum'at

Penulis: Albirru
Ahad, 4 Oktober 2026
3x Dibaca

A.    Pasal Syarat-syarat Wajib Shalat Jum'at

﴿فَصْلٌ﴾ وَشَرَائِطُ وُجُوْبِ الْجُمْعَةِ سَبْعَةُ أَشْيَاءَ : اَلْإِسْلَامُ وَالْبُلُوْغُ وَالْعَقْلُ. وَهَذِهِ شُرُوْطٌ أَيْضًا لِغَيْرِ الْجُمْعَةِ مِنَ الصَّلَوَاتِ (وَالْحُرِّيَّةُ وَالذُّكُوْرِيَّةُ وَالصِّحَّةُ وَالْاِسْتِيْطَانُ) فَلَا تَجِبُ الْجُمْعَةُ عَلَى كَافِرٍ أَصْلِيٍّ وَصَبِيٍّ وَمَجْنُوْنٍ وَرَقِيْقٍ وَأُنْثَى وَمَرِيْضٍ وَنَحْوِهِ وَمُسَافِرٍ.

 

Syarat-syarat wajibnya shalat Jum'at ada 7 perkara. Yakni:

1.     Islam

2.     Baligh

3.     Berakal

(tiga hal ini juga merupakan syarat bagi selain shalat Jum'at dari semua shalat).

4.     Merdeka

5.     Lelaki.

6.     Sehat

7.     berada di tempat tinggal.

 

Shalat Jum'at tidak wajib bagi orang kafir asli, anak kecil, orang gila, budak, wanita, orang sakit dan yang semisalnya, dan orang yang bepergian.

 

B.    Syarat-syarat Sahnya Sholat Jum’at.

 

 (وَشَرَائِطُ) صِحَّةِ (فِعْلِهَا ثَلَاثَةٌ) اَلْأَوَّلُ دَارُ الْإِقَامَةِ الَّتِيْ يَسْتَوْطِنُهَا الْعَدَدُ الْمُجْمِعُوْنَ سَوَاءٌ فِي ذَلِكَ الْمُدُنُ وَالْقُرَى الَّتِيْ تُتَّخَذُ وَطَنًا، وَعَبَّرَ الْمُصَنِّفُ عَنْ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ (أَنْ تَكُوْنَ الْبَلَدُ مِصْرًا) كَانَتِ الْبَلَدُ (أَوْ قَرْيَةً وَ) الثَّانِيْ (أَنْ يَكُوْنَ الْعَدَدُ) فِيْ جَمَاعَةِ الْجُمْعَةِ (أَرْبَعِيْنَ) رَجُلاً (مِنْ أَهْلِ الْجُمْعَةِ) وَهُمُ الْمُكَلَّفُوْنَ الذُّكُوْرُ الْأَحْرَارُ الْمُسْتَوْطِنُوْنَ بِحَيْثُ لَا يَظْعَنُوْنَ عَمَّا اسْتَوْطَنُوْهُ شِتَاءً وَلَا صَيْفًا إِلَّا لِحَاجَةٍ. (وَ) الثَّالِثُ (أَنْ يَكُوْنَ الْوَقْتُ بَاقِيًا) وَهُوَ وَقْتُ الظُّهْرِ فَيُشْتَرَطُ أَنْ تَقَعَ الْجُمْعَةُ كُلُّهَا فِي الْوَقْتِ، فَلَوْ ضَاقَ وَقْتُ الظُّهْرِ عَنْهَا بِأَنْ لَمْ يَبْقَ مِنْهُ مَا يَسَعُ الَّذِيْ لَا بُدَّ مِنْهُ فِيْهَا مِنْ خُطْبَتَيْهَا وَرَكْعَتَيْهَا صُلِّيَتْ ظُهْرًا.

Syarat-syarat sah melakukannya ada 3, yaitu:

  1. Bertempat di tempat bermukim yang digunakan sebagai tempat tinggal sejumlah orang yang melakukan shalat Jum'at, baik berupa kota atau desa yang dijadikan tempat tinggal. Mushannif mengungkapkannya dengan perkataan, "Tempat yang digunakan shalat Jum'at adalah kota atau desa."
  2. Jumlah orang pada shalat Jum'at adalah 40 laki-laki dari orang-orang yang ahli Jum'at. Yaitu, orang-orang yang mukalaf, laki-laki, merdeka, dan menempat di tempat tinggal mereka sekira tidak berpindah dari tempat yang mereka tempati, baik dalam musim panas atau musim dingin, kecuali karena ada hajat.
  3. Masih adanya waktu shalat Jum'at. Waktunya adalah waktu shalat dhuhur. Prosesi shalat Jum'at semuanya disyaratkan harus dilakukan dalam waktunya. Jika waktu dhuhur (yang tersisa) tidak mencukupi, yakni tidak tersisa waktu yang cukup untuk melakukan hal-hal yang wajib dilakukan di dalamnya berupa dua khutbah dan dua rakaat, maka shalat Jum'at harus dilaksanakan dengan bentuk shalat dhuhur.


(فَإِنْ خَرَجَ الْوَقْتُ أَوْ عُدِمَتِ الشُّرُوْطُ) أَيْ جَمِيْعُ وَقْتِ الظُّهْرِ يَقِيْنًا أَوْ ظَنًّا وَهُمْ فِيْهَا (صُلِّيَتْ ظُهْرًا) بِنَاءً عَلَى مَا فُعِلَ مِنْهَا، وَفَاتَتِ الْجُمْعَةُ سَوَاءٌ أَدْرَكُوْا مِنْهَا رَكْعَةً أَمْ لَا، وَلَوْ شَكُّوْا فِيْ خُرُوْجِ وَقْتِهَا وَهُمْ فِيْهَا أَتَمُّوْهَا جُمْعَةً عَلَى الصَّحِيْحِ.


Bila waktu telah keluar atau syarat-syaratnya tidak terpenuhi, maksudnya waktu dhuhur telah kelar semuanya dengan yakin atau dengan perkiraan dan para jama'ah sedang berada dalam shalat, maka shalat mereka harus dibuat menjadi dhuhur dengan meneruskan dari apa yang telah dilaksanakan dan hilanglah shalat Jum'at, baik mereka mendapatkan satu rakaat dari shalat Jum'at atau tidak. Bila ragu atas keluarnya waktu dan mereka berada dalam shalat, maka mereka harus menyempurnakan shalat Jum'at menurut qoul shahih.

 

C.   Kewajiban-kewajiban dalam shalat Jum'at

(وَفَرَائِضُهَا) وَمِنْهُمْ مَنْ عَبَّرَ عَنْهَا بِالشُّرُوْطِ (ثَلَاثَةٌ) أَحَدُهَا وَثَانِيْهَا (خُطْبَتَانِ يَقُوْمُ) الْخَطِيْبُ (فِيْهِمَا وَيَجْلِسُ بَيْنَهُمَا) قَالَ الْمُتَوَلِّيْ بِقَدْرِ الطُّمَأْنِيْنَةِ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ، فَلَوْ عَجَزَ عَنِ الْقِيَامِ وَخَطَبَ قَاعِدًا أَوْ مُضْطَجِعًا، صَحَّ وَجَازَ الْاِقْتِدَاءُ بِهِ، وَلَوْ مَعَ الْجَهْلِ بِحَالِهِ وَحَيْثُ خَطَبَ قَاعِدًا فَصَّلَ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ بِسَكْتَةٍ لَا بِاضْطِجَاعٍ


Kewajiban-kewajiban dalam shalat Jum'at (sebagian ulama menggunakan perkataan "syarat-syarat") ada 3.

Yang pertama dan kedua adalah melaksanakan dua khutbah yang dilaksanakan oleh khotib dengan berdiri dalam keduanya dan duduk antara keduanya. Al-Mutawali berkata, "(duduk tersebut) dengan kira-kira Tuma'ninah antara dua sujud." Jika tidak mampu berdiri lantas berkhutbah dengan duduk atau dengan posisi tidur miring, maka sah dan boleh bermakmum kepadanya meskipun tidak mengetahui keadaan khotib sebenarnya. Jika berkhutbah dengan duduk, maka harus memisah antara keduanya dengan diam bukan dengan tidur miring.

 

D.   Rukun - rukun dalam shalat Jum'at

وَأَرْكَانُ الْخُطْبَتَيْنِ خَمْسَةٌ: حَمْدُ اللّهِ تَعَالَى، ثُمَّ الصَّلَاةُ عَلَى رَسُوْلِ اللّهِ وَلَفْظُهُمَا مُتَعَيَّنٌ، ثُمَّ الْوَصِيَّةُ بِالتَّقْوَى وَلَا يَتَعَيَّنُ لَفْظُهَا عَلَى الصَّحِيْحِ، وَقِرَاءَةُ آيَةٍ فِي إِحْدَاهُمَا، وَالدُّعَاءُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فِي الْخُطْبَةِ الثَّانِيَةِ،

Rukun-rukun khutbah ada 5:

  1. Memuji Allah ta'ala
  2. Membaca shalawat untuk Nabi saw. Bacaan yang digunakan untuk keduanya (memuji Allah dan shalawat) adalah tertentu (pada suatu lafadz).
  3. Wasiat/perintah bertaqwa. Menurut qoul shahih, lafadz wasiat tidak tertentu.
  4. Membaca ayat pada salah satu dari dua khutbah.
  5. Membaca doa untuk orang-orang yang beriman yang laki-laki dan perempuan pada khutbah kedua.


(Catatan kaki pada gambar: Yang digunakan memuji Allah dalam khutbah harus menggunakan lafadz "الحمد" atau yang musytaq/dimunculkan darinya. Sedang shalawat menggunakan lafadz "الصلاة" atau yang musytaq darinya.)


وَيُشْتَرَطُ أَنْ يُسْمِعَ الْخَطِيْبُ أَرْكَانَ الْخُطْبَةِ الْأَرْبَعِيْنَ تَنْعَقِدُ بِهِمُ الْجُمْعَةُ، وَيُشْتَرَطُ الْمُوَالَاةُ بَيْنَ كَلِمَاتِ الْخُطْبَةِ وَبَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ، فَلَوْ فَرَّقَ بَيْنَ كَلِمَاتِهَا وَلَوْ بِعُذْرٍ بَطَلَتْ، وَيُشْتَرَطُ فِيْهَا سَتْرُ الْعَوْرَةِ وَطَهَارَةُ الْحَدَثِ وَالْخَبَثِ فِي ثَوْبٍ وَبَدَنٍ وَمَكَانٍ (وَ) الثَّالِثُ مِنْ فَرَائِضِ الْجُمْعَةِ (أَنْ تُصَلَّى) بِضَمِّ أَوَّلِهِ (رَكْعَتَيْنِ فِي جَمَاعَةٍ) تَنْعَقِدُ بِهِمُ الْجُمْعَةُ، وَيُشْتَرَطُ وُقُوْعُ هَذِهِ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْخُطْبَتَيْنِ بِخِلَافِ صَلَاةِ الْعِيْدِ فَإِنَّهَا قَبْلَ الْخُطْبَتَيْنِ


Dalam berkhutbah disyaratkan khotib (orang yang berkhutbah) memperdengarkan rukun-rukun khutbah kepada 40 orang yang hanya dengan mereka shalat Jum'at menjadi sah. Dan disyaratkan adanya muwalah antara kalimat-kalimat khutbah dan antar dua khutbah. Jika memisah keduanya, meskipun sebab udzur, maka batal khutbahnya.

Saat berkhutbah disyaratkan menutup aurat, suci dari hadats dan najis yang ada di pakaian, tubuh, dan tempat.


Yang ketiga dari kewajiban-kewajiban shalat Jum'at adalah shalat Jum'at dilakukan dengan dua rakaat dan dalam jama'ah yang hanya dengan jama'ah mereka shalat Juma't menjadi sah. Shalat ini disyaratkan harus berada setelah dua khutbah. Berbeda dengan shalat 'ied sebab shalat 'ied dikerjakan sebelum dua khutbahnya.


E.     Sunah-sunah haiat shalat Jum'at

(وَهَيْئَاتُهَا) وَسَبَقَ مَعْنَى الْهَيْئَةِ (أَرْبَعُ خِصَالٍ) أَحَدُهَا (الْغُسْلُ) لِمَنْ يُرِيْدُ حُضُوْرَهَا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ مُقِيْمٍ أَوْ مُسَافِرٍ، وَوَقْتُ غُسْلِهَا مِنْ الْفَجْرِ الثَّانِي وَتَقْرِيْبُهُ مِنْ ذَهَابِهِ أَفْضَلُ، فَإِنْ عَجَزَ عَنْ غُسْلِهَا تَيَمَّمَ بِنِيَّةِ الْغُسْلِ لَهَا (وَ) الثَّانِي (تَنْظِيْفُ الْجَسَدِ) بِإِزَالَةِ الرِّيْحِ الْكَرِيْهِ مِنْهُ كَصُنَانٍ فَيَتَعَاطَى مَا يُزِيْلُهُ مِنْ مَرْتَكٍ وَنَحْوِهِ (وَ) الثَّالِثُ (لُبْسُ الثِّيَابِ الْبِيْضِ) فَإِنَّهَا أَفْضَلُ الثِّيَابِ (وَ) الرَّابِعُ (أَخْذُ الظُّفْرِ) إِنْ طَالَ وَالشَّعْرُ كَذَلِكَ فَيَنْتِفُ إِبْطَهُ، وَيَقُصُّ شَارِبَهُ، وَيَحْلِقُ عَانَتَهُ (وَالتَّطَيُّبُ) بِأَحْسَنِ مَا وُجِدَ مِنْهُ (وَيُسْتَحَبُّ الْإِنْصَاتُ) وَهُوَ السُّكُوْتُ مَعَ الْإِصْغَاءِ (فِي وَقْتِ الْخُطْبَةِ) وَيُسْتَثْنَى مِنَ الْإِنْصَاتِ أُمُوْرٌ مَذْكُوْرَةٌ فِي الْمُطَوَّلَاتِ مِنْهَا إِنْذَارُ أَعْمَى أَنْ يَقَعَ فِي بِئْرٍ، وَمَنْ دَبَّ إِلَيْهِ عَقْرَبٌ مَثَلاً (وَمَنْ دَخَلَ) الْمَسْجِدَ (وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ ثُمَّ يَجْلِسُ) وَتَعْبِيْرُ الْمُصَنِّفِ بِـ"دَخَلَ" يُفْهِمُ أَنَّ الْحَاضِرَ لَا يُنْشِئُ صَلَاةً رَكْعَتَيْنِ، سَوَاءٌ صَلَّى سُنَّةَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَا وَلَا يَظْهَرُ مِنْ هَذَا الْمَفْهُوْمِ أَنَّ فِعْلَهُمَا مُحَرَّمٌ أَوْ مَكْرُوْهٌ، لَكِنِ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ صَرَّحَ بِالْحُرْمَةِ وَنَقَلَ الْإِجْمَاعَ عَلَيْهَا عَنِ الْمَاوَرْدِيِّ.

Sunah-sunah haiat shalat Jum'at -penjelasan haiat telah lalu- ada 4 hal, yaitu:

  1. Mandi. Ini berlaku bagi orang yang hendak mendatangi jama'ah shalat Jum'at, baik laki-laki, perempuan, orang merdeka, budak, orang yang mukim (berada di daerah tempat tinggalnya) atau musafir. Waktu mandi Jum'at adalah sejak munculnya fajar kedua/shodiq. Mendekatkan pelaksanaanya dengan keberangkatan (menuju tempat shalat Jum'at) itu lebih utama. Jika tidak mampu mandi Jum'at, maka bertayamum dengan niat (sebagai pengganti) mandi karena shalat Jum'at.
  2. Membersihkan badan. Dengan menghilangkan bau tak sedap darinya, semisal bau busuk ketiak, maka sunah mengusahakan sesuatu yang bisa menghilangkannya. Misalnya, martak (nama sebuah batu berwarna merah yang berfungsi menghilangkan bau ketiak) dan semisalnya.
  3. Mengenakan pakaian putih karena pakaian tersebut adalah paling utama-utamanya pakaian.
  4. Memotong kuku jika panjang. Rambut juga seperti itu. Sunah mencabut bulu ketiak, memotong kumis, mencukur bulu alat kelamin dan memakai wewangian dengan pewangi paling baik yang ditemukannya.


Disunahkan inshot - yakni diam seraya mendengarkan - saat berlangsungnya khutbah. Dari kesunahan inshot, dikecualikan beberapa hal yang disebutkan dalam kitab besar. Antara lain, memperingatkan orang buta dari terjerumus ke dalam sumur dan orang yang didekati kalajengking, misalnya. Barangsiapa masuk masjid, sedang imam sedang berkhutbah, maka sunah melakukan shalat dua rakaat yang ringan, kemudian baru duduk. Penggunaan redaksi "دَخَلَ" oleh mushannif memberikan pemahaman bahwa orang yang telah hadir (di masjid) tidak disunahkan melakukan shalat dua rakaat, baik telah melakukan shalat sunah Jum'at atau tidak. Namun, dari pemahaman ini, tidak tampak sebenarnya melakukan dua rakaat tersebut baginya haram atau makruh? Tapi, An-Nawawi dalam kitab Syarh Al-Muhadzdab menjelaskan keharamannya. Dan meriwayatkan dari Al-Mawardi adanya ijma' atas keharaman tersebut.


Bagikan:

Tinggalkan Komentar

0 Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!