Ditemukan 3 materi dalam kategori ini.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي مَنَّ عَلَيْنَا بِفَضْلِهِ الْعَمِيْمِ، وَبَشَّرَ الْمُتَّقِيْنَ بِجَنَّاتِ النَّعِيْمِ وَأَنْذَرَ الْمُسِئِيْنَ بِعَذَابٍ أَلِيْمٍ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي خُصَّ بِالْخُلُقِ الْعَظِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الرَّؤُوْفِ الرَّحِيْمِ وَعَلَى أٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ تَمَسَّكُوْا بِنَهْجِ الْقَوِيْمِ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَآ أَيُّهَا الْإِخْوَانِ الْكِرَامِ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى وَهُوَ أَصْدَقُ الْقَائِلِيْنَ: أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، وَمَآ أُمِرُوْا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ، وَيُقِيْمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ.
Hadirin Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah
Mari kita bersama-sama senantiasa menetapkan rasa takut dan takwa kepada Allah, dengan senantiasa taat pada semua perintah dan firman-Nya, serta menjauhi semua larangan-Nya. Jangan sampai berani meninggalkan kewajiban dan mengabaikan perintah-perintah Allah, dan juga jangan sampai berani melanggar larangan-larangan Allah.
Dalam keadaan apa pun, senantiasalah bertakwa dan taat kepada Allah, agar kita senantiasa mendapat rahmat dan anugerah, kebahagiaan hidup di sisi Allah Ta'ala, mulai di dunia hingga sampai ke akhirat. Amin.
Selanjutnya mari berikhtiar mengikhlaskan semua amal ibadah kita, bahwa semua amal ibadah yang kita lakukan bisa bersih dari semua niat dan pamrih lain, juga demi mencari ridha Allah Swt. Karena ikhlas adalah ruh dari sebuah amal.
Ibadah tanpa keikhlasan ibarat jasad tanpa nyawa, tidak akan bernilai di hadapan Allah SWT. Sebagaimana firman Allah dalam mukadimah tadi, yaitu:
"Dan manusia tidak diperintah kecuali supaya ibadah kepada Allah dengan ikhlas, memurnikan ketaatan karena melakukan perintah agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus" (QS. Al-Bayyinah: 5).
Kaum Muslimin jama’ah Jum’at Rahimakumullah
Pusat diterimanya amal ada pada niat, terutama amal sosial yang sangat mudah tercampur riya' (pamer). Rasulullah saw. secara tegas mengingatkan kita melalui hadis yang sangat masyhur:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya: "Sesungguhnya sahnya amal itu digantungkan pada niat. Dan bagi setiap orang akan mendapat balasan menurut niatnya."
Saking besarnya peran niat dalam menentukan nilai ibadah kita di hadapan Allah, sebagian ulama berpesan:
رُبَّ عَمَلٍ صَغِيْرٍ تَعَظَّمَهُ النِّيَّةُ ، رُبَّ عَمَلٍ كَبِيْرٍ تَصَغَّرَهُ النِّيَّةُ
Artinya: "Berapa banyak amal yang kelihatannya kecil, pahalanya menjadi besar karena baiknya niat. Dan berapa banyak amal yang kelihatannya besar, akhirnya menjadi kecil pahalanya karena luput (salah) oleh niat."
Hadirin Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah
Jadi, ikhlas itu ibarat rumus perkalian dengan angka nol dalam matematika. Sebesar dan sebanyak apa pun sebuah angka, dari ribuan hingga jutaan, jika dikalikan dengan angka nol, maka hasilnya akan habis menjadi nol. Begitu pula dengan amal perbuatan. Sebesar apa pun ibadah dan pengorbanan kita, mungkin sedekah hingga puluhan juta atau ibadah siang dan malam, jika dikalikan dengan "nol keikhlasan" yaitu (karena dicampuri pamer atau sekadar ingin dipuji manusia), maka nilainya di hadapan Allah hancur menjadi nol. Tidak bersisa sedikit pun.
Oleh karena itu, sangat disayangkan jika amal yang kita lakukan dengan susah payah hancur tanpa guna hanya karena salah niat. Akhirnya, semoga Allah Swt senantiasa memberikan kita petunjuk agar mampu melaksanakan amal ibadah dengan ikhlas murni demi meraih keridhaan Allah Ta'ala. Amin Ya Robbal 'Alamin.
جَعَلَنَا اللّٰهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْفَائِزِيْنَ الْأَمِنِيْنَ وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ، فَيَٱ أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى : لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِࣖ
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan takwa kepada Allah dengan sungguh-sungguh menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Saat ini kita berada di bulan Rabiul Akhir. Setiap pergantian waktu adalah pengingat bagi kita untuk mensyukuri nikmat umur.
Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 7:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧
Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras (QS Ibrahim: 7).
Syukur hakikatnya diwujudkan dalam ketaatan dan amal nyata. Meski bulan Rabiul Akhir tidak memiliki kekhususan ritual seperti Ramadhan atau Muharram, justru di sinilah keistiqamahan kita diuji. Apakah kita tetap taat beribadah atau justru terlena?
Rasulullah saw bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللّٰهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu (berkelanjutan) walaupun itu sedikit.
Karena itu, mari pertahankan dan tingkatkan keistiqamahan amal kita di bulan ini, di antaranya melalui lima hal berikut:
Pertama, shalat wajib berjamaah. Rasulullah saw bersabda, “Shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat. Jika shalatnya baik, maka seluruh amalnya akan baik; jika shalatnya rusak, maka seluruh amalnya pun rusak” (HR Thabrani).
Kedua, menambah shalat sunnah sebagai penyempurna shalat fardhu dan wujud cinta kita mengikuti sunnah Nabi.
Ketiga, membaca Al-Qur’an setiap hari, meski hanya beberapa ayat.
Keempat, membiasakan bersedekah. Jangan menunggu kaya atau sehat untuk bersedekah. Ingatlah firman Allah dalam surah Al-Munafiqun ayat 10:
وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍ ۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ ١٠
Artinya: Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antaramu. Dia lalu berkata (sambil menyesal), Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, aku akan dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh (QS Al-Munafiqun: 10).
Kelima, memperbanyak zikir dan doa. Jadikan zikir sebagai penyerta dalam setiap aktivitas kehidupan kita.
Hadirin yang berbahagia, Jangan menunggu datangnya bulan-bulan mulia baru kita bersemangat ibadah, sebab kita tidak tahu kapan batas umur kita berakhir. Jadikan bulan ini momentum memperkuat iman dan amal sebagai wujud syukur kita yang sejati.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰه وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَٱ أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَاٰمِنُوْا بِرَسُوْلِهٖ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَّحْمَتِهٖ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ نُوْرًا تَمْشُوْنَ بِهٖ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌۙ
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah swt atas segala nikmat-Nya, sehingga kita dapat melaksanakan shalat Jumat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah saw yang kita nantikan syafaatnya di hari akhir kelak. Mengawali khutbah ini, khatib berwasiat, mari kita tingkatkan takwa kepada Allah, karena hanya iman dan takwalah yang akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat.
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Bulan Rabiul Akhir adalah bulan yang istimewa. Di bulan ini, kita sangat dianjurkan untuk memaksimalkan ibadah dan amalan sunnah. Setidaknya, ada tiga amalan utama yang bisa kita rutinkan pada bulan ini:
Pertama, meningkatkan keimanan melalui tilawah Al-Qur'an dan dzikir. Membaca Al-Qur'an akan mendekatkan kita kepada Allah. Hal ini harus diiringi dengan dzikir untuk mengingat-Nya agar hati menjadi tenang. Allah swt berfirman:
فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
Artinya: "Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (QS Al-Baqarah: 152)
Kedua, memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw. Syekh Abdul Hamid dalam kitab Kanzun an-Najah wa al-Surur (hal. 130), menyatakan bahwa sangat menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak shalawat di bulan ini. Membaca shalawat memiliki keutamaan yang luar biasa, di antaranya: kita akan mendapat limpahan rahmat berlipat ganda, meraih syafaat Rasulullah di hari kiamat, dan mendapatkan perlindungan dari berbagai mara bahaya.
Bahkan, bagi siapa saja yang setelah shalat Ashar pada hari Jumat tidak beranjak dari tempatnya lalu membaca shalawat 80 kali, maka Allah akan mengampuni dosanya sebanyak 80 tahun dan mencatatnya sebagai ibadah 80 tahun.
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Ketiga, melaksanakan puasa Ayyamul Bidh. Puasa ini dilakukan pada pertengahan bulan, yakni tanggal 13, 14, dan 15 Hijriah. Hukumnya adalah sunnah muakkad (sangat dianjurkan). Rasulullah saw sendiri senantiasa merutinkan amalan ini, sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas ra:
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيْضِ في حَضَرٍ وَلاَ سَفَرٍ. (رواه النسائي بإسنادٍ حسن)
Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: ‘Rasulullah saw sering tidak makan (berpuasa) pada hari-hari yang malamnya cerah (Ayyamul Bidh) baik di rumah maupun dalam bepergian’.” (HR an-Nasa’i).
Hadirin yang dirahmati Allah,
Sebagai penutup, selain ketiga amalan sunnah tersebut, mari kita isi bulan Rabiul Akhir ini dengan kebaikan-kebaikan lain seperti bersilaturahmi, bersedekah, dan menuntut ilmu. Semoga kita semua dapat memanfaatkan waktu di bulan ini untuk memperbanyak amal ibadah dan meningkatkan ketakwaan.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ